Mengenai Saya

Foto saya
Thariqah Sammaniyah al-'Aliyyah al-Qodiriyah al-Khalwatiyah - Syatthariyah 'Arifin Billah - Syatthariyah Ashaliyah - Naqsyabandiyah al-Khalidiyah. Dibawah bimbingan : Guru Mursyid Tengku Mudo al-Khalidi as-Sammani as-Syatthari. Dengan alamat : Kelurahan.Jombang, Kecamatan.Ciputat, Kota.Tagerang Selatan, Provinsi.Banten. WhatsApp Admin : 082385789999

Senin, 01 April 2019

Tarekat Naqsyabandiah The Power of Rabitah Sebagai Pelita Qalbu

Tarekat Naqsyabandiah The Power of Rabitah Sebagai Pelita Qalbu

Rabithah dalam etimologinya diartikan dengan “perhubungan, perikatan”.(Kamus Arab-Indonesia, Mahmud yunus, 136). Syekh Daud al-Fatani di dalam kitabnya “Diya 'u 'l-Murid” menyebutkan bahwa rabitah itu  mengkhayalkan rupa shaikhnya pada di antara dua matanya maka yaitu  terlebih sangat muakkad bagi memberi bekas. Maka dihadirkan rupa shaikhnya pada hatinya..

 Hal senada juga diungkapkan oleh Syekh 'Abdus Shamad al-Palimbangi di dalam kitabnya “Hidayatus-Salik” menyebutkan tentang adab-adab berzikrullah, antara lain beliau menyebutkan adab yang ketujuhnya dengan katanya:"Ketujuh, menyerupakan rupa shaikhnya antara kedua matanya dan adab ini terlebih muakkad (sangat-sangat dituntut) pada ahli tasawwuf."

Sementara dalam pandangan Syekh Muhammmad Amin Al Kurdi menyebutkan diharuskan seorang murid terus menerus merabitahkan rohaniahnya kepada rohaniah Syekh gurunya yang mursyid, guna mendapatkan karunia dari Allah SWT.  Beliau mengatakan sebuah karunia yang didapati itu bukanlah karunia dari mursyid, sebab mursyid tidak memberi bekas, yang memberi bekas yang hakiki, yang memberi bekas sesungguhnya hanya Allah SWT.

Allah yang berhak dan memberi kurnia dan memberi nikmat hanya Allah SWT, sebab ditangan Allah SWT sajalah seluruh perbendaharaan yang ada di langit dan di bumi, dan tidak ada yang dapat berbuat untuk mentasarufkannya kecuali Allah SWT. Hanya saja Allah SWT mentasarufkannya itu, melalui pintu- pintu yang telah ditetapkan-Nya atau menjadi Sunnah-Nya, antara lain melalui para kekasih-Nya, para wali-wali Allah SWT yang memberikan syafaat dengan izin-Nya (Tanwirul Qulub, Syekh Amin Al Kurdi, 1994, hal 448).

DALAM melahirkan sebuah kekuatan dan energi, peran dari sebuah rabitah sangat besar. Salah satu kekuatan yang  selalu hadir dan mengawasi kita adalah bagian dari prosesi rabitah. Lihatlah dalam lintasan sejarah apa yang terjadi pada nabi Yusuf As. Saat beliau nyaris terjerumus dalam perbuatan yang terlarang dan ini merupakan salah satu indikasi atas kenyataan tersebut.

Telah disebutkan dalam surat Yusuf ayat 24 yang berbunyi, “Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu Termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih. (QS. Yusuf : 24) .

Para ulama tafsir berpendapat bahwa “burhan” (tanda) pada ayat di atas yang dilihat oleh Nabi Yusuf As sebagaimana yang diungkapkan Syekh Ibnu Kasir dalam tafsirannnya ada beberapa argumen. Pertama, riwayat dari pada Ibn 'Abbas, Sa'id, Mujahid, Sa'id bin Jubair, Muhammad bin Sirin, al-Hasan, Qatadah, Abi Salih, al-Dahak, Muhammad bin Ishaq dan lain-lainnya menyebutkan bahwa Nabi Yusuf As itu telah melihat rupa ayahandanya, Nabi Ya'qub sedang menggigit jari-jari tangannya dan disebutkan pula dalam satu riwayat lainnya dari Ibn 'Abas (juga) bahwa Nabi Ya'qub telah memukul dada Nabi Yusuf.

Kedua, Al-'Awfi berkata (berdasarkan riwayat) dari Ibn 'Ab bas bahwa Nabi Yusuf telah nampak dalam pandangannya rupa raja yang menjadi tuannya itu (menurut pendapat ulama beliau bernama Qithfir).

Berdasarkan  ayat di atas bahwa Nabi Yusuf telah melihat ayahnya Yacob dan ini diperkuat juga argumen yang dikutip oleh Imam At-Thabari dalam tafsirnya, Ibnu Abbas r.a. menjelaskan bahwa ungkapan andai kata Yusuf tidak melihat bukti tuhannya dalam surah Yusuf di atas tersebut adalah, andai kata beliau tidak melihat bayangan bentuk wajah ayahnya [Tafsir al-Thabari,XII: 186].

Semakin jelas dari ungkapan Ibn Abbas ini bahwa Yusuf mengalami rabithah secara otomatis dengan izin Allah. Sudah selayaknya kita untuk terus berusaha selalu “bersama” dengan Allah dan kalaupun tidak sampai ke tingkat tersebut, kita diperintah unntuk bergaul dengan orang yang bersama dengan Allah, terlebih di era globalisasi yang sangat banyak tantangan dan cobaan.

Merespons fenomena ini sebagian kaum arifibillah (orang-orang yang sudah mengenal Allah SWT) berkata: "Bersamalah engkau selalu dengan Allah, dan jika engkau belum bisa, maka bersamalah engkau selalu dengan orang yang sudah bersama dengan Allah” (Tanwirul Qulub, hal. 512).

Dalam pandangan ulama tasawuf rabithah mursyid merupakan salah satu metode untuk mendapatkan  wasilah menuju Allah. Perintah berwasilah sebagaiman disebutkan dalam kalam Allah SWT  yang beberbunyi :“ Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah   (jalan) yang mendekatkan diri kepada-Nya dan berjihatlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan”. (QS. al Maidah [5] : 35)

Rasululah SAW tidak pernah kita bertemu dengan beliau, namun dengan kekuatan the power of rabiitah dengan perantaraan para masyaikh, kita sebagai salik dan murid yang senantiasa taat dan patuh kepada mursyid (masyaikh) mampu juga menghubungkan rohaniah dengan junjungan Rasulullah SAW.

Seseorang ahli ilmu meskipun yang telah berilmu tinggi namun hatinya tidak hidupnya lampu The Power of Rabitah itu, sehingga kosongnya sang qalbu nur ma'rifah sehingga tidak dapat menyaksikan Allah dengan mata hatinya (bermakrifah) atau tidak yakin bahwa Allah selalu melihat segala perbuatan dan sikapnya, sehingga berakhlak tidak baik maka hal tersebut menunjukkan ketidakdekatannya dengan Allah SWT.

Editor: IHAN NURDIN



Kisah Imam Ma’ruf al-Karkhi dan Para Pemabuk

Kisah Imam Ma’ruf al-Karkhi dan Para Pemabuk

Dalam kitab Tadzkirah al-Auliyâ’, Imam Fariduddin Attar memasukkan kisah unik dari Imam Ma’rûf al-Karkhi. Berikut kisahnya:

Dikisahkan bahwa Imam Ma’ruf al-Karkhi berjalan bersama murid-muridnya di tepian sungai Tigris, dan sekelompok pemuda sedang asyik minum-minum khamr, menabuh rebab (sejenis alat musik), dan menampakkan kefasikan secara terbuka di atas perahu sungai Tigris. Berkata sebagian murid kepada Imam Ma’ruf: “Wahai guru, berdoalah kepada Allah agar mereka binasa dengan tenggelam, agar kesialan mereka tidak mengenai makhluk lainnya dan kefasikan mereka berhenti (mempengaruhi) orang lain.”

Imam Ma’ruf al-Karkhi berkata: “Angkatlah tangan kalian.” Ketika mereka semua mengangkatnya, Imam Ma’ruf berdoa: “Tuhanku, sebagaimana Kau senangkan hidup mereka di dunia, maka senangkan juga hidup mereka di akhirat kelak.” Maka murid-muridnya terkejut dengan isi doa Imam Ma’ruf al-Karkhi, dan berkata: “Wahai guru, kami tidak memahami rahasia doa ini.” Imam Ma’ruf al-Karkhi menjawab: “Tunggulah, maka kalian akan memahami rahasia di balik doa tersebut.”

Kemudian, ketika sekelompok pemuda itu melihat Imam Ma’ruf al-Karkhi, seketika mereka menghancurkan rebabnya, membuang khamarnya, menjatuhkan diri menangis, dan menghampiri Imam Ma’ruf al-Karkhi dengan terburu-buru, lalu mereka semua bertobat. Setelah itu, Imam Ma’ruf al-Karkhi berkata (pada murid-muridnya): “Lihatlah peristiwa mengagumkan ini, tujuannya tercapai tanpa harus ada yang ditenggelamkan.” (Imam Fariduddin Attar, Tadzkirah al-Auliyâ’, alih bahasa Arab oleh Muhammad al-Ashiliy al-Wasthani al-Syafi’i [836 H], Damaskus: Darul Maktabi, 2009, hal. 346-347)

****

Kisah di atas harus dihidupi dengan pemahaman menyeluruh, jangan hanya terjebak pada “mungkin” atau “tidak mungkin” pengaruh doa bisa secepat itu. Keterjebakan semacam itu akan membuat kita terlewat sisi baik kisah tersebut. Kita perlu memahaminya dengan terbuka, membuka pandangan selebar-lebarnya untuk mencerap hikmahnya. Lagi pula, Allah telah berjanji bahwa siapa pun yang berdoa kepadaNya akan dikabulkan, apalagi yang berdoa adalah orang yang saleh lagi berilmu.

Dalam kisah di atas, Imam Ma’ruf al-Karkhi (w. 200 H) menampilkan pengajaran akhlak dalam doanya. Di saat murid-muridnya memintanya untuk mendoakan keburukan, Imam Ma’ruf al-Karkhi meresponsnya dengan cara yang tidak diharapkan. Ia berdoa memohon kebaikan bagi para pemabuk itu di dunia dan akhirat. Tentu saja ini tidak dipahami oleh murid-muridnya. Bagaimana mungkin para pendosa bisa bersenang-senang di akhirat? Bukankah hidupnya bergelimang dosa? Begitulah kira-kira yang bergulir di benak mereka.

Namun, jika dicermati dengan baik, kalimat doa, “Tuhanku, sebagaimana Kau senangkan hidup mereka di dunia, maka senangkan juga hidup mereka di akhirat kelak,” mengandung makna yang sangat dalam. Tidak mungkin seseorang bisa bersenang-senang di akhirat jika mereka ahli maksiat dan tidak pernah beramal baik. Artinya, dengan doa tersebut Imam Ma’ruf al-Karkhi sedang memohonkan tobat untuk mereka, tapi dengan cara yang halus dan beradab. Pertanyaannya, kenapa harus dengan cara halus dan beradab?

Jawabannya sederhana, Imam Ma’ruf al-Karkhi melihat kebencian dalam murid-muridnya. Mereka menginginkan kebinasaan para pemabuk itu dengan cara ditenggelamkan, meskipun tujuan mereka baik. Oleh karenanya, Imam Ma’ruf al-Karkhi membacakan doa yang tidak mereka mengerti, bahkan mungkin mereka kritisi. Sisi menariknya, Imam Ma’ruf al-Karkhi melibatkan murid-muridnya dalam proses pengajaran akhlak melalui doa ini. Dengan demikian, murid-muridnya turut mendapat pahala dari tobatnya para pemabuk itu, yang akhirnya membuat mereka lebih sadar terhadap tanggung jawab seorang muslim kepada muslim lainnya.

Di samping itu, ada juga soal adab dan seni bertutur kepada Allah. Contohnya ketika seseorang mohon kaya, ada yang berdoa, “Tuhan, berikanlah aku kekayaan dua ratus miliar,” tapi ada juga yang berdoa, “Tuhan, berikanlah aku kemampuan berzakat dan bersedekah lima miliar.” Ini sekedar contoh, soal mana yang lebih beradab dan berseni tutur tinggi, silahkan dinilai sendiri, yang jelas ada nilai lebih yang terkandung di dalamnya.

Karena itu, Imam Ma’ruf al-Karkhi menegaskan pada baris terakhir kisah di atas, “Lihatlah peristiwa mengagumkan ini, tujuannya tercapai tanpa harus ada yang ditenggelamkan.” Tujuan yang dimaksud di sini adalah tujuan dalam arti sebenarnya, bukan tujuan yang diharapkan oleh murid-muridnya, yaitu kebinasaan para pemabuk. Dengan kata lain, Imam Ma’ruf al-Karkhi berusaha menyelarasi kehendak Tuhan untuk membawa para pendosa kembali ke jalan-Nya, bukan membinasakan mereka atas namaNya. Sebab, jika Imam Ma’ruf al-Karkhi membinasakan mereka sekarang, berarti ia telah merenggut peluang tobat para pemabuk itu.

Penegasan tersebut juga berarti peringatan kepada murid-muridnya, agar jangan sampai kebencian mereka pada perilaku buruk orang lain membuat mereka terjangkiti virus ujub dan takabbur. Dua virus yang sangat berbahaya bagi seorang salik yang sedang mencari Tuhan karena bisa menutup pintu kerendahan hati (tawaduk). Agar lebih mudah memahaminya, kita perlu merenungkin dialog Imam Abu Yazid al-Busthami dengan seekor anjing. Katanya:

“Wahai tuan guru, jika ujung (jubah)mu terkotori olehku, bisa dibersihkan dengan membasuhnya tujuh kali saja, tapi jika kau terkotori oleh egomu sendiri, tujuh lautan pun tak bisa menbersihkannya.” Imam Abu Yazib berkata: “Kau memang najis secara zahir, tapi batinmu suci. Sementara aku suci secara zahir, tapi batinku najis.” (Imam Fariduddin Attar, Tadzkirah al-Auliyâ’, hal. 193-194)

Dialog di atas adalah sebuah gambaran, bahwa hati manusia teramat sangat rumit, dipenuhi dengan berbagai macam watak dan rasa. Tidak seperti binatang yang hanya memiliki naluri sehingga selalu mengerjakan hal yang sama (monoton). Oleh karena itu, Imam Ma’ruf al-Karkhi memperingatkan murid-muridnya agar mengambil pelajaran dari peristiwa mengagumkan ini, bahwa ada pilihan lain dalam menghadapi manusia, tidak selalu menghukum yang akhirnya merenggut peluang mereka menjadi baik. Jadi, seberapa besarkah peluang kita?

Penulis: Muhammad Afiq Zahara, alumni Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Petanahan, Kritig, Kebumen dan Pondok Pesantren al-Islah, Kaliketing, Doro, Pekalongan.
Sumber: nu.or.id


Ketika Sayyidina Husain Dihina

Ketika Sayyidina Husain Dihina

Dikisahkan tentang Sayyidina Husain bin Ali radiyallahu ‘anhumâ bahwa telah sampai kepadanya perkataan seseorang yang tidak menyenangkannya, kemudian ia mengambil piring besar dan memenuhinya dengan kurma yang baru saja dipetik. Ia membawanya sendiri ke rumah orang yang berkata tidak menyenangkan itu.

Sayyidina Husain mengetuk pintu rumah orang itu. Orang itu berdiri membukanya. Ia melihatnya membawa piring besar yang penuh dengan kurma. Orang itu bertanya: “Apa ini, wahai cucu Rasulullah?”

Sayyidina Husain menjawab: “Ambillah piring penuh kurma ini, karena telah sampai kepadaku bahwa kau telah menghadiahkan amal kebaikanmu padaku, maka aku ganti dengan ini.” (Imam Abû Hâmid al-Ghazali, al-Tibr al-Masbûk fî Nashîhah al-Mulûk, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyyah, 1988, hlm. 24-25)

****

Penghinaan seringkali disikapi dengan kemarahan. Itu bukan hal yang aneh, karena memang wajar. Siapa pun yang dihina, dia akan tersinggung dan marah. Pertanyaannya, ke mana kemarahan itu menuju dan menjadi apa kemarahan itu?

Rasulullah bersabda (HR Imam al-Bukhari): “lâ taghdab—jangan marah.” Tidak hanya berhenti sampai di situ, dalam riwayat lain terdapat tambahan (HR Imam al-Thabrânî): “lâ taghdab, wa laka al-jannah—jangan marah dan untukmu surga.” Dengan kata lain, kemarahan bisa membuat orang kehilangan peluang masuk surga dan mengantarkannya lebih dekat ke pintu neraka. Untuk memperjelas, mari kita kaji lebih dalam lagi.

Apa yang dilakukan Sayyidina Husain dalam kisah di atas tidak sesederhana yang dibayangkan. Ia membawa formula “lâ taghdab” ke tingkat yang lebih tinggi, tidak sekedar bermain di wilayah menahan (sabar), tapi juga memasuki wilayah bersyukur. Kita tahu, kompetensi dasar “tidak marah” adalah menahan diri (sabar). Dengan menahan diri, Allah sudah menjanjikan kita surga. Dan perlu diingat, menahan diri itu tidak mudah. Siapapun orangnya pasti pernah mengalaminya, yang membedakannya adalah berubah menjadi apa kemarahan itu.

Dalam kisah di atas, Sayyidina Husain menampilkan sikap yang sukar dimengerti oleh manusia pada umumnya. Ia mengekspresikan kemarahannya dengan wajah syukur. Memberikan sepiring besar kurma sebagai ganti amal baik yang telah berpindah kepadanya. Karena dalam Islam ada hukum yang mengajarkan, jika ada orang yang bicara buruk tentang seseorang, amal baiknya akan berpindah ke orang yang dibicarakannya.

Sayyidina Husain tidak mau menerima amal baik orang lain dengan cuma-cuma. Ia harus menggantinya dengan sesuatu yang langsung terasa manfaatnya oleh orang tersebut. Bagaimana tidak, ia telah mendapatkan manfaat langsung dari ucapan buruk orang tersebut, maka ia harus melakukan hal yang sama, memberikan sesuatu yang bermanfaat secara langsung padanya. Baginya, mengambil manfaat tanpa mendermakan balasan yang setara termasuk perbuatan yang tidak terpuji.

Jauh sebelum Sayyidina Husain, Nabi Isa as pernah menyampaikan nasihat kepada Nabi Yahya as agar menghadapi gunjingan dan kebohongan dengan syukur kepada Allah. Artinya, pola sikap semacam ini merupakan sikap yang ditunjukkan oleh para nabi, kemudian diteruskan oleh para wali dan ulama yang shalih. Nabi Isa as berkata:

“Jika seseorang berkata dusta tentang dirimu, maka tambahkan syukurmu. Karena sebenarnya dia sedang menambah amalmu di buku catatan (amalmu) dan kau pun menjadi orang yang damai. Maksudnya adalah bahwa amal baik orang itu akan dicatat atas namamu dalam buku catatan (amalmu).” (Imam Abû Hâmid al-Ghazali, al-Tibr al-Masbûk fî Nashîhah al-Mulûk, 1988, hlm. 24)

Dilihat dari sudut pandang lain, sebagai penerus tradisi para nabi, tindakan Sayyidina Husain juga menunjukkan keadilan yang luar biasa. Dengan menerima hinaan atau gunjingan dari orang lain, ia mendapatkan dua kebaikan sekaligus; kebaikan dari keberhasilannya menahan amarah, dan kebaikan dari pindahnya amal baik orang lain kepadanya. Karena itu, ia memberikan sesuatu sebagai bentuk keadilan kepada orang yang telah berjasa kepadanya, meski jasa itu dilakukan dengan cara yang tidak beretika.

Selain itu, ia juga menampakkan akhlak mulia. Sikapnya berhasil meninggalkan kesan mendalam di hati si penggunjing atau penghinanya. Bisa jadi ini merupakan gambaran paling sesuai mengenai dakwah bil hikmah. Dakwah yang muncul dari penerapan kaidah agama di tataran ideal tertingginya, sehingga menyentuh hati orang tanpa harus membuat-buat sesuatu.

Ini membuat kita jadi tahu bahwa satu ajaran agama jika diamalkan dalam tataran idealnya dapat membuka banyak pintu amal-amal lainnya. Berbeda jika pengamalan ajaran agama berada di batas “hanya sekedarnya saja”. Misalnya anjuran “lâ taghdab—jangan marah” dilakukan hanya sekedarnya saja tanpa membawanya ke wilayah syukur, adil dan wilayah-wilayah lainnya.

Hal ini sama sekali tidak bertentangan dengan pakem “mengamalkan agama semampunya.” Karena bahasa “semampunya” sebenarnya bahasa yang tidak memiliki batas yang jelas, tergantung pada setiap individu. Artinya setiap orang memiliki batas kemampuan yang berbeda-beda. Kemampuan manusia berkembang setiap harinya. Jadi, yang perlu dilakukan oleh manusia adalah melebarkan ruang kemampuannya untuk meningkatkan pengamalan agamanya ke level yang lebih tinggi. Yang terpenting adalah jangan sampai berlebih-lebihan.

Kesimpulannya, kisah di atas merupakan pelajaran besar bagi kita agar meningkatkan standar kompetensi kita tentang “jangan marah”. Bahwa sabar tidak hanya diam menerima hinaan dan gunjingan, tapi mewujud juga dalam bentuk syukur dan adil. Kita pun harus sadar bahwa kita sedang menerima kebaikan (pahala) dari orang yang berbicara buruk tentang kita. Jika kita sadar akan hal itu, harapannya kita akan lebih mudah menerima semua kebencian tentang kita. Pertanyaannya, pernahkah kita mengatakan “jangan marah” di saat kita sedang marah?

Semoga bermanfaat...

Penulis: Muhammad Afiq Zahara, alumni Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen dan Pondok Pesantren al-Islah, Kaliketing, Doro, Pekalongan.

Sumber: nu.or.id

Sanad Silsilah Thariqah Syatthariyah di Pulau Jawa

Sanad Silsilah Thariqah Syatthariyah Versi Kuningan

Sanad Silsilah Thariqah Syatthariyah Versi Cirebon

Sanad Silsilah Thariqah Syatthariyah Versi Giriloyo

Sanad Silsilah Thariqah Syatthariyah di Minangkabau


SILSILAH THARIQAH SYATTHARIYAH

Tentang sanad (silsilah) para pemimpin tharikat syatariyah dan hubungan kami dengan nya di mulai dr
24-alfaqir alhaqir abdul rauf yg mnerima ijazah dr guru kami yg makrifat kpd ALLAH, yaitu alkamil almukamil
23-safiyudin ahmad bin muhammad almadany al ansari yg lebih di kenal dg al qusyaisi, ia mnerima ijazah dr
22-abdullah ahmad assinawiy , ia mnerima ijazah dr sultan yg makrifat kpd ALLAH
21-sayid sibghotullah, ia mnerima ijazah dr pemimpin ulama
20-wajihuddin al alawiy , ia mnerima ijazah dr
19-sayid muhammad alghaus, ia mnerima ijazah dr
18-syekh haji huduri ,ia mnerima ijazah dr
17-syekh hidayatullah sarmasti, ia mnerima ijazah dr
16-imam qadi syatari , ia mnerima ijazah dr
15-syekh Abdullah syatari , ia mnerima ijazah dr
14-sayid muhammad arif, ia mnerima ijazah dr
13-syekh muhammad asyiq, ia mnerima ijazah dr
12-syekh hadaqily al mawiriy, ia mnerima ijazah dr
11-al qutub bin hassan al hirqany, ia mnerima ijazah dr
10-syekh abi al mudaffar maulana tarku At tus, ia mnerima ijazah dr
9-syekh al arabi yazid isqy, ia mnerima ijazah dr
8-syekh muhammad al maghribi, ia mnerima ijazah dr sultan yg makrifat ,
7-abi yazid al bustamiy, ia mnerima ijazah dr
6-imam jakfar siddiq, ia mnerima ijazah dr
5-imam muhammad baqir, ia mnerima ijazah dr
4-imam zainal abidin , ia mnerima ijazahdr
3-imam husein syahid, ia mnerima ijazah dr 2-sayidina ali kw, ia mnerima ijazah dr -
1-rasulullah saw.
***

Demikian silsilah tharikat syatari ini saya salin langsung dr kitab tanbihul masi, kitab tsb di susun oleh syekh abdrrauf singkil.
Biasa nya selesai puasa sepuluh syawal, kita selalu menziarahi maqam beliau, dr tiga provinsi sumbar, riau, jambi, kita berkumpul di pariaman lalu berangkat bersama2 menuju aceh, lebih kurang 80 mobil, baik bus maupun mobil pribadi. Namun sejak pecah perang GAM, kegiatan ziarah ini terhenti , dan skrg aceh telah damai, namun kegiatan ziarah ini cm di lakukan dlm kelompok2 kecil.
Saya berharap kedepan nya kita bs kembali bersama2 berziarah ke bumi aceh darussalam ke maqam syekh abdrrauf singkil dan maqam ulama lain nya.

خاتمة فى ذكر سناد سادة الشطارية و اتصالنا به و هو تلقن الفقير الحقير عبد الرؤوف عن شيخنا العارف بالله الكامل المكمل صفى الدين احمد ابن محمد المدانى الانصارى الشهير بالقشاشى وهو تلقن عن سيدنا ابى المواهب عبدالله احمد ابن على القرش العباس اثناوى وهو تلقن عن سلطان العارفين بالله سيدنا السيد صبغة الله وهو تلقن عن قدوة العلماء سيدنا وجيه الدين العلوى وهو تلقن عن الغوث الجامع للجوامع سيدنا السيد محمد الغوث وهو تلقن عن سيدنا قدوة المقربين الشيخ حاج حضور طاب ثراه وهو اخذ عن سيدنا الشيخ هدايةالله السرمست وهو تلقن عن سيدنا الامام قاضى الشطارى وهو تلقن عن من الشيخ عبد الله الشطارى وهو تلقن من سيدى محمد عارف وهو تلقن من سيدنا محمد عشق وهو تلقن من الشيخ حداقلى الماور النهرى وهو تلقن من القطب ابن الحسن الحرقانى وهو تلقن من الشيخ ابى المضفر مولان ترك الطوس وهو تلقن من الشيخ الاعرابى يزيد العشقى وهو تلقن من الشيخ محمد المغربي وهو تلقن من روحانية سلطان العارفين ابى يزيد البسطامى وهو تلقن من روحانية الامام جعفر الصادق وهو تلقن من الامام محمد الباقر وهو تلقن من الامام الحسين الشهيد وهو تلقن من الامام المرتضى على ابن طالب رضي الله عنه وهو تلقن من النبي صلى الله عليه وسلم هذا سادة الشطارية واتصالنا به



Silsilah Syekh Burhanuddin Ulakan Pariaman




Adab Berguru (Adab Kepada Mursyd)






Foto saat acara pengangkatan dan pengesahan menjadi Mursyd Thariqah