Mengenai Saya

Foto saya
Thariqah Sammaniyah al-'Aliyyah al-Qodiriyah al-Khalwatiyah - Syatthariyah 'Arifin Billah - Syatthariyah Ashaliyah - Naqsyabandiyah al-Khalidiyah. Dibawah bimbingan : Guru Mursyid Tengku Mudo al-Khalidi as-Sammani as-Syatthari. Dengan alamat : Kelurahan.Jombang, Kecamatan.Ciputat, Kota.Tagerang Selatan, Provinsi.Banten. WhatsApp Admin : 082385789999

Jumat, 05 Juli 2019

Pengertian Mursyid

Pengertian Mursyid
Secara luas, kata mursyid berasal dari ‘irsyad’ yang artinya petunjuk. Sedangkan pelakunya adalah mursyid yang artinya orang yang ahli dalam memberi petunjuk dalam bidang agama. Menurut pengertian ini, yang disebut mursyid adalah orang-orang yang ditugasi oleh Allah Swt untuk menuntun, membimbing dan menunjukkan manusia ke jalan yang lurus atau benar dan menghindarkan manusia dari jalan yang sesat. Tentu saja mereka sebelum ditugasi oleh Allah telah mendapat pengajaran terlebih dahulu dan mendapatkan bekal yang diperlukan untuk melaksanakan tugas pembimbingan.
Menurut Rasulullah Saw, bahwa jajaran petugas-petugas Allah Swt memimpin dan membimbing umat adalah para Nabi, para Rasul, dan para Khalifah Allah (Khulafaur Rasyidin al Mahdiyyin) yakni Khalifah Allah dan Khalifah Rasulullah yang memberi petunjuk dan mendapat petunjuk dari Allah Swt, Nabi bersabda :
Dari Abu Hurairah ra. menyatakan: Rasulullah Saw bersabda:
“Dahulu kaum Bani Isra’il dipimpin oleh para Nabi. Setiap seorang nabi meninggal dunia, maka diganti seorang nabi lainnya. Maka sesungguhnya tidak ada nabi yang menggantikan setelah aku meninggal dunia, Namun yang menggantikanku adalah khalifah-khalifah. Maka mereka banyak mempunyai pengikut-pengikut ”, Sahabat bertanya, “Wahai Rasul apa yang engkau perintahkan pada kami?” Rasul menjawab, “Laksanakan baiat seperti baiat pertama kali di hadapan mereka dan tunaikan hak-hak mereka, Kalian mintalah kepada Allah yang menjadi bagian kalian, karena Allah Ta’ala menanyakan tentang apa yang mereka pimpin.” (HR. Bukhari Muslim).
Pengertian Mursyid secara terbatas pada kalangan sufi dan ahli thareqat adalah orang yang pernah membaiat dan menalqin atau mengajari kepada murid tentang teknik-teknik bermunajat kepada Allah berupa teknik dzikir atau beramalan-amalan saleh.
Mursyid adalah guru yang membimbing kepada murid untuk berjalan menuju Allah Swt dengan menapaki jalannya. Dengan bimbingan guru itu, murid meningkat derajatnya di sisi Allah, mencapai Rijalallah, dengan berbekal ilmu syariat dan ilmu hakikat yang diperkuat oleh al Qur’an dan as sunah serta mengikuti jejak ulama pewaris nabi dan ulama yang telah terdidik oleh mursyid sebelumnya dan mendapat izin dari guru di atasnya untuk mengajar umat. Guru yang dimaksud adalah guru yang hidup sezaman dengan murid dan mempunyai tali keguruan sampai nabi Muhammad Saw. Guru yang demikian itu adalah yang sudah Arif Billah, tali penyambung murid kepada Allah, dan merupakan pintu bagi murid masuk kepada istana Allah. Dengan demikian guru merupakan faktor yang penting bagi murid untuk mengantarkannya menuju diterimanya taubat dan dibebaskannya dari kelalaian.
Dalam perjalanan menuju Allah Swt, murid wajib baginya menggunakan mursyid atau pembimbing. Syekh Abu Yazid al Busthomi berkata :
ﻣَﻦْ ﻟَﻢْ ﻳَﻜُﻦْ ﻟَﻪُ ﺷَﻴْﺦٌ ﻳُﺮْﺷِﺪُﻩُ ﻓَﻤُﺮْﺷِﺪُﻩُ ﺷَﻴْﻄَﺎﻥٌ
Orang yang tidak mempunyai syeikh mursyid, maka syekh mursyidnya adalah syetan.
Muhammad Amin al Kurdi dalam kitanya yang bejudul Tanwirul Qulub menjelaskan bahwa pada saat murid ingin meniti jalan menuju Allah (thareqatullah), ia harus bangkit dari kelalaian. Perjalanan itu harus didahului dengan taubat dan segala dosa kemudian ia melakukan amal saleh. Setelah itu ia harus mencari seorang guru mursyid yang ahli keruhanian yang mengetahui penyakit-penyakit kejiwaan dari murid-muridnya. Guru tersebut hidup semasa dengannya. Yaitu seorang guru yang terus meningkatkan diri ke berbagai kedudukan kesempurnaan, baik secara syariat maupun hakikat. Perilakunya juga sejalan dengan al Qur’an dan al Sunnah serta mengikuti jejak langkah para ulama pendahulunya. Secara berantai hingga kepada Nabi Saw. Gurunya itu juga telah mendapat otoritas atau izin dari kakek gurunya untuk menjadi seorang mursyid dan pembimbing keruhanian kepada Allah Swt, sehingga murid berhasil diantarkan kepada maqam-maqam dalam tasawuf dan thareqat. Penentuan guru ini juga tidak boleh atas dasar kebodohan dan mengikuti nafsu. (Amin al Kurdi, Tanwirul Qulub, hlm.524)
Sebelum ia menjadi mursyid yang arif billahi, seseorang harus mendapat tarbiah atau pendidikan dari guru yang selalu mengawasi perkembangan ruhani murid, sehingga murid mencapai maqam ‘shiddiq’. Kemudian diizinkan oleh guru untuk membaiat kepada calon murid dengan mengajari mereka.
Tampilnya menjadi mursyid itu bukan kehendak dirinya tapi kehendak gurunya, dengan demikian orang yang memunculkan dirinya sebagai mursyid tanpa seizin guru maka ia sangat membahayakan kepada calon muridnya. Murid yang di bawah bimbingannya itu akan mengalami keterputusan. Berarti mursyid yang palsu ini menjadi penghalang muridnya menuju Allah dan dosa-dosa mereka akan ditanggung oleh mursyid jadi-jadian itu. (Amin al Kurdi: tt, hlm. 525)
Seluruh pembelajaran dan pengajaran serta bimbingan mesti bersesuaian dengan isi, terutama bagian dalam al Qur’an dan al Sunnah serta sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh nabi dan ulama pewarisnya. Orang yang menyandang demikian itulah yang layak dicontoh / diteladani oleh murid-muridnya, syaikh Imam Junaid al Baghdadi mengatakan :
ﻋَﻠِﻤْﻨَﺎ ﻫَﺬَﺍ ﻣُﻘَﻴَّﺪٌ ﺑِﺎﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ ﻭَﺍﻟﺴُّﻨَّﺔِ ﻓَﻤَﻦْ ﻟَﻢْ ﻳَﻘْﺮَﺇِ ﺍْﻟﻜِﺘَﺎﺏَ ﻭَﻟَﻢْ ﻳَﻜْﺘُﺐِ ﺍﻟْﺤَﺪِﻳْﺚَ ﻭَﻟَﻢْ ﻳَﺠْﻠِﺲِ ﺍْﻟﻌُﻠَﻤَﺎﺀَ ﻻَ ﻳُﻘْﺘَﺪَﻯ ﻓِﻰ ﻫَﺬَﺍ ﺍﻟﺸَّﺄْﻥِ
Ilmu kami diperkuat dengan dalil-dalil al Qur’an dan al Hadits, maka siapa yang tidak membaca al Qur’an dan tidak menulis hadits, serta tidak duduk sering-sering dengan ulama, maka ia tidak layak menjadi panutan di dalam perkara-perkara (thareqat) ini.
Dengan keterangan di atas, mursyid semestinya adalah orang yang tergolong ulama, pemimpin umat yang bersifat kamil lagi mukammil yakni pribadinya bersih dan suci serta berakhlak yang terpuji, dan mampu menyempurnakan akhlak murid-muridnya.Mursyid adalah kuat keyakinannya dan menjadi kekasih Tuhan, membawa berkah untuk umatnya serta rahmat bagi kaumnya. Ia mengetahui berbagai penyakit ruhani dan jasmani muridnya, mampu menyembuhkan penyakit-penyakit tersebut atau mampu mengajarkan teknik-teknik penyembuhan dan pengobatan jasmani dan ruhani. Mampu menyelesaikan persoalan-persoalan yang rumit yang membelenggu umat dengan kekeramatan dan maunah yang diberikan oleh Allah kepadanya.
Mursyid adalah sebutan untuk seorang guru pembimbing dalam dunia thariqah, yang telah memperoleh izin dan ijazah dari guru mursyid di atasnya yang terus bersambung sampai kepada Guru Mursyid Shohibut Thariqah yang musalsal (silsilahnya) dari Rasulullah SAW untuk mentalqin dzikir/wirid thariqah kepada orang-orang yang datang meminta bimbingannya (murid). Dalam Thariqah Tijaniyah sebutan untuk mursyid adalah “muqoddam”. Mursyid mempunyai kedudukan yang penting dalam thariqah. Karena ia tidak saja merupakan seorang pembimbing yang mengawasi murid-muridnya dalam kehidupan lahiriyah sehari-hari agar tidak menyimpang dari ajaran-ajaran Islam dan terjerumus kedalam kemaksiatan, tetapi ia juga merupakan pemimpin kerohanian bagi para muridnya agar bisa wushul (terhubung) dengan Allah SWT. Karena ia merupakan washilah (perantara) antara si murid dengan Allah SWT. Demikian keyakinan yang terdapat di kalangan ahli thariqah.
Oleh karena itu, jabatan ini tidak boleh dipangku oleh sembarang orang, sekalipun pengetahuannya tentang ilmu thariqah cukup lengkap. Tetapi yang terpenting adalah ia harus memiliki kebersihan rohani dan kehidupan batin yang tulus dan suci.
Bermacam-macam sebutan yang mulia diberikan kepada seorang guru mursyid ini; seperti Nasik (orang yang sudah bisa mengerjakan mayoritas perintah agama), Abid (orang yang ahli dan ikhlas mengerjakan segala ibadahnya), Imam (orang yang ahli memimpin tidak saja dalam segala bentuk ibadah syari’at, tetapi juga dalam masalah aqidah/keyakinan), Syaikh (orang yang menjadi sesepuh atau yang dituakan dari suatu perkumpulan), Saadah (penghulu atau orang yang dihormati clan diberi kekuasaan penuh) dan lain sebagainya.
Syaikh Muhammad Amin Al-Kurdi.ra, seorang penganut Thariqah Naqsyabandiyah yang bermadzhab Syafi’i dalam kitabnya Tanwirul Qulub fii Mu’amalati Allamil Ghuyub menyatakan bahwa yang dinamakan Syaikh/ Mursyid itu adalah orang yang sudah mencapai maqom Rijalul Kamal, seorang yang sudah sempurna suluk/lakunya dalam ilmu syari’at dan hakikat menurut Al-Qur’an, Sunnah dan Ijma’. Hal yang demikian itu baru terjadi sesudah sempurna pengajarannya dari seorang mursyid yang mempunyai maqom (kedudukan) yang lebih tinggi darinya, yang terus bersambung sampai kepada Rasulullah Muhammad SAW, yang bersumber dari Allah SWT dengan melakukan ikatan-ikatan janji dan wasiat (bai’at) dan memperoleh izin maupun ijazah untuk menyampaikan ajaran-ajaran suluk dzikir itu kepada orang lain.
Seorang mursyid yang diakui keabsahannya itu sebenamya tidak boleh dari seorang yang jahil, yang hanya ingin menduduki jabatan itu karena didorong oleh nafsu belaka. Mursyid yang arif yang memiliki sifat-sifat dan kesungguhan seperti yang tersebut diatas itulah yang diperbolehkan memimpin suatu thariqah. Mursyid merupakan penghubung antara para muridnya dengan Allah SWT, juga merupakan pintu yang harus dilalui oleh setiap muridnya untuk menuju kepada Allah SWT. Seorang syaikh/mursyid yang tidak mempunyai mursyid yang benar diatasnya, menurut Al-Kurdi, maka mursyidnya adalah syetan. Seseorang tidak boleh melakukan irsyad (bimbingan) dzikir kepada orang lain kecuali setelah memperoleh pengajaran yang sempurna dan mendapat izin atau ijazah dari guru mursyid di atasnya yang mempunyai silsilah yang benar sampai kepada Rasulullah SAW. Al-Imam Ar-Rozy menyatakan bahwa seorang syaikh yang tidak berijazah dalam pengajarannya akan lebih merusakkan daripada memperbaiki, dan dosanya sama dengan dosa seorang perampok, karena dia menceraikan murid-murid yang benar dari pemimpin-pemimpinnya yang arif.
Sumber: sufimuda net

Syeikh Abdul Samad Palembani Syahid dimedan perang

JIHAD SHEIKH ABDUL SAMAD AL-FALIMBANI
Perjuangan beliau dalam medan Jihad terserlah dalam peperangan Pattani dan Kedah menentang Siam pada tahun 1832. Tercatat dalam sejarah Peperangan antara Pattani dan Siam berlaku sebanyak 12 kali. Syeikh Daud Fattani dan Syeikh Abdul Samad al-Falimbani meninggalkan Makkah untuk turut serta dalam jihad menentang Siam pada tahun 1832.
Sheikh Abdul Samad telah dilantik sebagai panglima perang. Syeikh Abdul Samad syahid dalam peperangan tersebut iaitu pada tahun 1828. Beliau ditangkap dan disula oleh tentera Siam, dan kepalanya dipancung dan di bawa ke Bangkok untuk dipersembahkan kepada Maharaja Siam sebagai bukti kematiannya. Dikatakan bahawa kuburnya baru sahaja dijumpai oleh pengkaji sejarah di Pattani iaitu di Mukim Jenung, Chanaa iaitu berhampiran dengan Pondok Bantrap.

*Kepala As syahid Sheikh Abdul Samad Al-Falimbani masih ada di Muzium diraja Thailand, Tun Mahathir menjadi saksi.

KESIMPULAN AGAR WUSHUL ITU ADA DUA

Agar wushul kepada Allah maka kita diharuskan istiqomah dalam thariqat yang dijalankan, dan kesimpulan istiqomah agar mencapai wushul itu dihimpun pada dua kesimpulan :
1.Tetap ingat Allah (Bernama Dzikrullah)
2.Tetap ingat Guru/Terhubung batin dengan Guru 
(Bernama Robitoh)

TIRAKATMU MENENTUKAN MASA DEPAN SUAMIMU

TIRAKATMU MENENTUKAN MASA DEPAN SUAMIMU
Ny. Hj. Noor Khadijah Chasbullah
Ketika mendengar kata “tirakat”, ada sebagian orang, kelompok, jamaah, yg secara otomatis menyorotkan LCD otaknya pada kanvas “devinisi”. Lantas dari LCD itu terpotetlah gambar ritual2 tertentu seperti puasa sehari semalam dan rangkaian aktivitas yg terlihat melelahkan, menyiksa diri sendiri, terkesan tidak mensyukuri nikmat Allah. Pemahaman yg demikian bukanlah sebuah kesalahan. Dari satu sudut, memang demikianlah kesan yg bisa dijumput. Itu, ketika “tirakat” dipahami secara sempit.
Ma hiya attirakatu ?
Sepanjang pengetahuan saya, “tirakat” merupakan kosa kata Arab, “taraka”, yg berarti meninggalkan ! Entah bagaimana mulanya, sampai bermetamorfosis dan dibakukan sebagai bahasa Indonesia, Jawa. Hampir semua orang Indonesia tidak asing dgn kata “tirakat”. Kalau Anda penggemar lagunya Acha Septriasa, akan menemukan bait, “tirakatku hanya untuk cinta’.
Orang2 tua zaman dulu (entah kalau zaman sekarang) sering menganjurkan kepada anak2nya, “tirakato ben uripmu mulyo, tirakatlah agar mendapatkan kemuliaan hidup”. Kalau ada jejawa (jejaka tua) atau gawa (gadis tuwa) yang tak laku2 kemudian berpuasa sunah, misal senin dan kamis, ada saja teman, atau tetangga yg komentar, “puasa terus, tirakat ya ? biar dapat jodoh”. Ketika masih pelajar dan saya rajin puasa senin kamis, ada saja yg tanya, “Kok puasa terus, biar sukses ya ?”
Dalam skala macro sejatinya tirakat tidak terbatas pada lelaku “puasa”. Sepemahaman saya, tirakat adalah meninggalkan (mengabaikan) segala sesuatu yg mubah (diperbolehkan) untuk mendapatkan ridha Allah. Contoh, bukan sebuah dosa ketika pada hari senin dan kamis tidak melakukan puasa. Bukan sebuah dosa pula jika sepanjang malam tidur dan tidak melakukan shalat tahajud. Anda bisa mencari contoh lain !
Namun jika rutin melakukan puasa sunah atau shalat tahajud tentu akan mendapatkan “hadiah” yg berbeda dgn tidak melakukan.
Bukankah ( logika) tahajud akan mengantarkan pada kedudukan yg mulia, maqaman mahmuda. Niat tirakat yg lillahi ta’ala akan menjadi kunci pembuka pintu langit. Dalam pandangan saya, ketika nawaitunya lillahi ta’ala hasil dari tirakatnya pun akan mengagumkan !
Hadratus Syaikh K.H. Dimyathy bin Abdullah Tremas (adik dari Hadratus Syaikh K.H. Mahfudz Tremas) ketika mengemban amanat melanjutkan estafet perjalanan PIP TREMAS tak pernah lupa bermunajat memohon kekuatan dan kemanfaatan ilmu. Selain berdoa, Mbah Dim mengiringi dengan lelaku puasa tiga tahun. Tahun pertama Mbah Dim niatkan untuk nirakati santri2nya. Tahun kedua untuk anak dan cucunya. Sedangkan tahun ketiga untuk anak dan cucunya.
Berbuahkah tanaman tirakat Mbah Dim ?
Tentu saja. Sekali lagi, setiap niat yg tulus dan pengorbanan yg ihlas akan menghasilkan panen kebajikan dalam sinaran ridha Allah SWT.
Habib Luthfi bin Yahya mengatakan, “99,9 persen santri Mbah Dim menjadi kiai yg berpengaruh, ‘allamah, dan mewarnai zamannya”. Beberapa ‘ulama’ yg akan saya sebut ini bisa menjadi bukti kekuatan tirakat ! Sayyid Hasan bin Abdullah Ba’abud (santri yang kemudian menjadi menantu). K.H. Habib Dimyathy, K.H. Haris Dimyathi, K.H. Hasyim Ihsan (tiga serangkai pengasuh PIP Tremas), K.H. Hamid Dimyathi, Abuya Dimyathi (Banten), Mbah Abdullah Hadziq (Mayong), Mbah Arsyad (Benda, Cirebon), Mbah R.Muhammad (Betengan, Demak), Mbah Jazuli (Ploso), Mbah Ali Mahrus (Lirboyo), Mbah Ma’sum(Lasem), bersama putranya Mbah Ali Ma’sum (Krapyak), Mbah Munawwir (Krapyak), Mbah Muntaha (Kalibeber, Wonosobo), Mbah Umar Syahid (Donorojo, Pacitan).
Laku tirakat yg dilakukan dgn sungguh2 akan berdampak besar kepada yg ditirakati. Kekuatan yg dihasilkan dari membatasi diri terhadap dunia bagaikan anak panah yg menuju kepada sasarannya. Semisal, ada orang tua yg menginginkan anaknya menjadi shalih dan bermanfaat. Cara yg ditempuh adalah dengan cara membatasi diri dari hal-hal yg mengundang murka Allah. Setiap malam, sebisa mungkin, rasa kantuk dan lelah di lawan untuk bersujud, bersimpuh, menengadahkan tangan, memohon kepada Allah SWT untuk kebaikan sang anak. Tak cukup sampai disitu, anak yg masih tertidur pulas, dihampiri dan dibacakan ayat suci, misal Al Qadar diiringi shalawat nabi dan ditiupkan pada ubun2nya. Terlebih, jika siang harinya diiringi dengan berpuasa. Usaha lahir batin yang utuh ini, pada ahirnya akan menarik partikel-partikel semesta untuk menyatu dan menjelma menjadi hembus dukungan, mestakung, semesta`mendukung.
Sekedar kisah : kakak bulek saya, adalah orang yg rajin berpuasa. Setahu saya, hari2nya selalu diisi dgn puasa. Kebetulan namanya seperti nama saya, Imam. Kebiasaan puasa atau hidup prihatin telah dijalaninya sejak muda, nyantri. Pak Imam ini adalah pribadi yg cenderung pendiam. Berbeda dgn adik2nya. Bicara ya sakmadyo. Saya menaruh keyakinan, Pak Imam mengamalkan suatu anjuran, “jika berbicara tanpa manfaat, maka diam adalah pilihan yg tepat”.
Tempaan tirakat yg dilakukan secara konsisten membawa dampak besar dalam kehidupannya. Ia menjadi sosok yg bermanfaat bagi lingkungannya. Rumah tangga sakinah mawaddah warahmah. Kedua anaknya menjadi generasi yg Islami, shalih dan shalihah. Saya teringat, ketika suatu ketika masuk waktu shalat dhuhur. Anak keduanya segera menemui sang ayah di ruang tamu dan berkata, “Yah, sudah masuk shalat dhuhur. Kita jamaah dulu yuk”. Bayangkan jika pembaca menjadi orang tua dari anak itu. Betapa bahagianya hati mendapati permata hati demikian taat menjalankan perintah Allah. Ketika di luar sering kita melihat demikian sulit orang tua mengajak anaknya untuk shalat. Anak yang berusia 7 tahunan mengajak orang tua untuk shalat.
Urusan prestasi ? Tak perlu dipertanyakan lagi. Anak pertamanya, ketika saya menulis catatan ini masih di Pondok Modern Gontor. Saya tidak tahu prestasi apa yg diukirnya di pesantren itu. Hanya saja, ketika masih SD ukiran prestasi telah diukirnya. Bahkan dia memperoleh prestasi tiga besar tingkat provinsi sebagai siswi dgn nilai ahir nasional tertinggi. Mungkin ada yg bertanya dan menyangka sang anak bersekolah di tempat bonavide. Zaman saya kuliah dulu, pada tahun 2006-an masih berlaku RSBI (Rintisan Sekolah Berstandar Internasional). Sang anak sekolah di lembaga yg biasa-biasa saja.
Tapi, sekali lagi, prestasinya mengalahkan anak2 yg mengenyam pembelajaran di sekolah favorit !
Saya menaruh keyakinan, bahwa rentetan prestasi itu bukan dimonopoli oleh usaha lahir saja. Dan bukan usaha anak saja. Tapi ada orang lain di belakangnya yg menjadi benteng batin dgn lesatan doa dalam ritus-ritus tirakat. Doa orang tua saja sudah luar biasa mustajabnya. Apalagi ditunjang dengan lelaku batin yang istiqamah.
Setiap kali mendapati hikayat tentang orang2 yg berhasil meraih kesuksesan. Ada yg menggelitik dalam diri saya untuk mengulik dan mencari2 rahasianya. Lelaku apa yg dijalankannya. Bisnisman sukses itu demikian konsisten menjaga shalat dhuhanya. Bukan dua rakaat, tapi delapan rakaat ! Bahkan ketika menjelang rapat penting pun dia tidak lupa memohon petunjuk Allah dalam sujud dhuhanya.
Dari sini, ada hikmah yg bisa dijemput. Semua tirakat yg tidak bertentangan dengan syariat dan niat lillahi ta’ala akan menambah daya tekan untuk mencapai tujuan. Syarat dalam munajat dan tirakat adalah konsisten atau istiqamah tanpa mengenal kata putus asa. Istri bisa menirakati suami. Orang tua bisa menirakati anak. Kiai bisa menirakati santri. Dalam skala yang lebih besar, kita bisa menirakati bangsa ini. Percayalah, jika kita rajin tirakat, analoginya seperti menanam kebaikan. Dan tanaman kebaikan akan menghasilkan panen.
Post by: Ahsani in Essay

Khalifah Syekh Muhammad Samman Di dunia Internasional Islam

Khalifah Syekh Muhammad Samman Di dunia Internasional Islam

Di dunia Internasional Islam, dari 46 daftar ulama besar dunia murid Syaikh Samman al-Madani yang masyhur di dunia Islam, namun tidak tercatat nama Mawlana asy-Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari.

Lemahnya tradisi mencatat dan menulis sejarah dalam budaya kita telah banyak memutus rantai sejarah.

Ini adalah tantangan bagi kita untuk mengkaji dan meneliti sejarah untuk kemudian mengenalkannya ke dunia Islam, agar tidak ada yang mendustakan sanad-sanad kita.

Jalur sanad Mawlana asy-Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari ke Syaikh Samman justeru dicatat oleh asy-Syaikh Nawawi bin 'Umar al-Bantani.

Kalau tidak karena beliau  al-Bantani yang mencatat , mungkin kita akan kehilangan jejak...

Menurut keterangan, tarekat Sammaniyah yang telah diperkenalkan dan
di-ijâzah-kan oleh Tuan Guru K.H. Zaini Abdul Ghani adalah tarekat yang
sanadnya, tidak melalui Syekh Abd al-Shammad al-Palimbani dan Syekh
Muhammad Nafis al-Banjari, tetapi melalui jalur Syekh Muhammad Arsyad
al-Banjari.

Syekh Muhammad Arsyad menerima tarekat tersebut secara
langsung dari Syekh Muhammad al-Samman, kemudian Syekh Muhammad Arsyad  mengajarkan kepada Syekh Syihabuddin, yang mengajarkan kepada Syekh Nawawi al-Bantani, kemudian mengajarkan kepada Syekh Zainuddin al-Sumbawi, yang mengajarkan kepada Syekh Abdullah al-Banjari, kemudian kepada Syekh H.Syarwani Abdan (Tuan Guru Bangil Jawa Timur), yang terakhir ini kemudian mengajarkan kepada Tuan Guru H. Zaini Ghani.

Berikiut adalah 46 daftar ulama besar dunia murid Syaikh Samman al-Madani yang masyhur di dunia Islam.
inilah daftarnya...

أخذ عليه الطريق أهل المدينة المنورة وغيرهم من جميع البلدان وممن أخذ عنه :
1-    الولي العارف سيدى القطب الغوث أحمد الطيب بن البشير ، ولقد وهبه القطبانية ، وكذلك وهبه كثيراً من الأسرار الربانية .
2-    العالم العامل سيدي الشيخ عبد الرحمن أبو زيد التادلي المغربي . ولقد أجازه في الطريقة السمانية بالسند الخلوتي .
3-    الولي العارف الشيخ عبد الرحمن الجاوي ( المدفون بأرض الجاوة )
4-    الولي الصالح الشيخ القرشي المغربي .
5-    الولي الصالح الشيخ القرشي السناري ( المدفون بالقجر )
6-    الشيخ عبد الرحمن الفُتني المكي الحنفي .
7-    الولي الكامل الشيخ سعد الدين الكابلي .
8-    الولي الصالح الشيخ حمد العباد ( المدفون بجيزة مصر المحروسة )
9-    العارف بالله الشيخ حسن الفيومي .
10-    الكامل الصالح الشيخ إبراهيم القلوباوي ، وكان قد أخذ من قبل الطريق على الشيخ بدر ولد الشيخ سليمان العوضي .
11-    وأيضا ولد القلوباوي الشيخ مدني .
12-    الشيخ الصالح أحمد محمد البقاري .
13-    الشيخ الصالح حماد ( المدفون بقُلي )
14-    الشيخ الصالح زين العابدين السناري .
15-    الشيخ جودات السليمي البقاري .
16-    الشيخ الصالح السني عجب العجائب اليمني .
17-    الولي العارف سيدي الشيخ عمر الشنقيطي ( المدفون بطرابلس الغرب )
18-    القطب الكامل سيدي الشيخ أحمد التجاني رضي الله عنه . ( شيخ الطائفة التجانية ) ولقد تلقن الطريق قبله على سيدي الشيخ محمود الكردي .
19-    عالم المدينة سيدي الشيخ محمد الجفري بن السيد حسين العلوي الشريف .
20-    وإبن شيخ الطريقة الترجم له سيدي الشيخ عبد الكريم .
21-    الشيخ الشريف الساكت ، تلميذ سيدي ومولاي العربي الدرقاوي المغربي .
22-    الشيخ محمد الزين باحسن جمل الليل الحسيني . نزيل الحرمين الشريفين .
23-    العالم العلامة سيدي الشيخ صديق بن عمر خان العمري الفاروقي المدني ( دفين جدة )
24-    الفقيه المحدث الشيخ أبو عبد الله محمد بن الطالب بن سودة المري ( عالم المغرب ).
25-    الشيخ عبد الله بن محمود المدني .
26-    الشيخ عبد الخالق بن علي الزين .
27-    الشيخ عبد الرحمن النشيني .
28-    الشيخ إبراهيم خليل الزبيدي ( المدفون بقبة الشيخ الجبرتي )
29-    الشيخ أحمد السوسي .
30-    الحاج رجب الصعيدي .
31-    الشيخ أحمد الجميلي الصعيدي .
32-    الشيخ عبد الرحمن بن عبد العزيز المغربي العمري .
33-    الشيخ أحمد صنو الشيخ ياسين مفتي البصرة .
34-    الشيخ على الشامي .
35-    الشيخ عبد الغني الفتني الهندي .
36-    الشيخ عبد الكريم الهندي الملتاني .
37-    الشيخ إبراهيم الغلام الشافعي المدرس بالمسجد النبوي .
38-    القاضي عباس بن عبد القادر المالكي .
39-    الشيخ عبد الله شريف الزبيدي .
40-    الريس أحمد الزمزمي .
41-    الشيخ محمد بن عثمان المكي .
42-    الشيخ إبراهيم الزمزمي .
43-    الشيخ محمد صالح بن محمد سعيد بن عبد الحفيظ المدني .
44-    الشيخ عبد الله أبو السعود .
45-    الشيخ زين العابدين بن أبي شُنينة .
46-    الشيخ محمد طوله زاده المدني .
وغير ذلك من التلامذة أهل القدم الراسخة ، والمرتبة الشامخة ، والأنفاس القدسية والكمالات الإنسية ، الفاتحين لأبواب اللاهوت ، المعمرين لآثار الناسوت .


Thariqah Sammaniyah di Minangkabau

Syekh Muhammad Samman Almadani termasuk wali besar yg ke lima dlm jajaran empat wali besar sebelumnya, yaitu:
1. Syekh Abd Qodir al-Jailani,
2. Syekh Ahmad al-Badawi,
3. Syekh Ahmad ar-Rifai,
4. Syekh Ibrahim ad-Dusuqi.

Bidang yg paling ditekuninya ialah Tauhid-Tasawuf. Ia mengambil ijazah Thoriqoh Khalwatiyah kpd Syekh Mustafa al-Bakri (w.1749). Selain itu, ia juga mengambil 4 thoriqoh mu'tabaroh lainnya yakni Qodiriyah, Naqsyabandiyah, Syadziliyah, & Adiliyah. Kelima thoriqoh tsb kemudian digabung, teknik2 zikir dan wirid berbagai thoriqoh ini dikolaborasikan serta dilengkapi dgn beberapa gubahan yg ia susun sendiri sehingga dikenal dg nama baru yaitu "Sammaniyah" yg zikirnya terkenal dg nama Ratib Samman.
Dgn demikian, mengamalkan Ratib Samman sama halnya dg mengamalkan 5 aliran thoriqoh dalam sekali waktu dan tempat dg hanya seorang guru.

Thariqah Sammaniyah terbentuk dari lima thariqah para ahli sufi, mengamalkan Thariqah Sammaniyah berarti sama halnya mengamalkan lima aliran Thariqah dalam sekali waktu dan tempat dgn hanya seorang guru mursyd, karna Thariqah Sammaniyah merupakan gabungan dari 5 jenis Thariqah.

Thariqah Sammaniyah pada hakekatnya merupakan gabungan dari lima Thariqah Mu'tabaroh, antara lain :
1. Khalwatiyah
2. Qadiriyah
3. Naqsyabandiyah
4. Syaziliyah
5. Adiliyah (Thariqah Adiliyah dibangsakan kepada Syekh Badaruddin al-'Adali)

Syekh Muhammad Sammanal al-Madani menerima ijazah untuk mengajarkan ke lima Thariqah ini dari guru-gurunya, ke lima Thariqah yang diterimanya itu memiliki sanad yang muthasil terhubung ke Rosulullah.

Di antara para Khalifah Syekh Muhammad Samman yang menjadi wakilnya menyebarkan Tarekat Sammaniyah secara lebih luas antara lain ialah:
1. Syekh Abdul Karim as-Samman (anaknya)
2. Syekh Abdus Somad al-Palembani (w.1832)
3. Syekh Ahmad Tijani di Maroko (w.1815)
4. Syekh Muhammad Nafis al-Banjari
5. Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari (w.1812)
6. Syekh Siddiq Umar Khon al-Madani (Jeddah)
7. Syekh Kemas Ahmad bin Abdullah al-Palembani (w.1800)
8. Syekh Abdurrahman al-Misri Betawi (w.1847)
9. Syekh Abdul Wahab Bugis (w.1793)
10. Syekh Muhammad bin Syais Sumbul al-Makki (Buton-Sulteng)
11. Syekh Abdurrahman al-Maghribi
12. Syekh Ahmad al-Baghdadi (Irak)
13. Syekh Shuruddin al-Qabuli (Afganistan)
14. Syekh Abdul Wahab Afifi al-Misri (Mesir)
15. Syekh Ahmad Thayib Sudan (w.1824) sanad ini seterusnya berlanjut kepada sanad Sammaniyah di Minangkabau(kumango)
16. Syekh Daud al-Fathani Thailand (w.1847)
17. Syekh Muhammad Shalih al-Fathani (Thailand)
18. Dll.

Thariqah Sammaniyah al-Khalwatiyah adalah salah satu dari empat Thariqah yang masyur di Tanah Andalas / Ranah Minangkabau Sumatra Barat.

Ulama-ulama Minangkabau mengambil bai'at Thariqah ini dan juga mendapatkan izin atau otoritas sebagai Mursyd dari seorang ulama di Medinah, yaitu Syekh al-Muhaddits Allamah as-Sayyid Muhammad Amin Ibn Ahmad Ridwan al-Madani al-Khalwati as-Sammani (wafat. 1329 H)masyur mengajar di Medinah, beliau ini ialah ulama besar, seorang sufi penganut Thariqah Sammaniyah al-Khalwatiyah, dan dikenal juga sebagai Syekh yang memegang sanad Dala’il Khairat.

Berikut nama ulama-ulama Minangkabau yang belajar kepada beliau dan yang menerima izin menjadi mursyd dari Syekh al-Muhaddits Allamah as-Sayyid Muhammad Amin Ibn Ahmad Ridwan al-Madani al-Khalwati as-Sammani, yaitu:

1).Syekh Abdurrahman al-Khalidi Kumango Batusangkar(w. 1932), beliau ini adalah empat tabaqat pendahulu dalam silsilah al-Faqir Tengku Mudo al-Khalidi.
2).Syekh Muhammad Arif Sampu Solok Selatan.
3).Syekh Muhammad Khatib ‘Ali Padang (w. 1939).
4).Syekh Mahmud Tuanku nan Hitam.
-Syekh Mahmud Tuangku Hitam, beliau adalah paman dari Musnid Dunya ‘alal Ithlaq Syekh Muhammad Yasin al-Fadani (w. 1991).

Editor : Tengku Mudo al-Khalidi

ADAB LEBIH TINGGI DARI ILMU

ADAB LEBIH TINGGI DARI ILMU
Kewajiban murid kepada Gurunya harus menjaga adab sopan santun ,tasylim dan ta'dhiim kepada para guru atau para masyikh .
Berkata Al-Habib Muhammad bin ‘Alwi al-Maliki :
أغضب من الطالب الذي لا يحترم أستاذه ولو كان الأستاذ صاحبه
“Aku marah terhadap murid yg tdk menghormati Gurunya, meskipun Sang Guru adalah temannya.”
Berkata Imam Nawawi :
ينبغى للمتعلم أن يتواضع لمعلمه ويتأدب معه
“Seyogyanya bagi seorang murid harus merendahkan diri kepada Gurunya dan beradab baik kepadanya.”
وإن كان أصغر منه سنا و اقل شهرة ونسبا وصلاحا لتواضعه يدرك العلم
“Meskipun Sang Guru tersebut lebih muda, tdk populer dan lebih rendah nasab serta keshalehannya dari sang murid. Karena ilmu bisa diperoleh dgn kerendahan hati dari seorang murid.”
Al-Habib ‘Abdullah bin ‘Alwi al-Haddad berkata :
واضر شيئ على المريد تغير قلب الشيخ عليه
“Paling berbahayanya bagi seorang murid (orang yg ingin sampai kepada keridhaan Allah, baik kalangan santri atau bukan) adalah berubahnya hati dari seorang guru kepadanya.”
ولو اجتمع على إصلاحه بعد ذلك مشايخ المشرق والمغرب لم يستطيعوه إلا أن يرضى عنه شيخه
“Jikalau semua guru dari timur dan barat berkumpul utk memperbaiki keadaan si murid, maka mereka tdk akan mampu kecuali gurunya telah ridha kembali kepadanya.”
اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

PETUAH AHLI TASAWUF

Turunnya karunia Allah tu manurut kesungguhan bermujahadah..
Terbitnya cahaya ilahi tu manurut kejernihan hati.
Hati yang bersihlah yang bisa manampuang limpahan dan karunia nan mutlak,yaitu terbitnya Nur Iman sampai kesekalian badan.

Sesungguhnya yang namanya cinta dengan guru, bukanlah orang yang dekat dengan guru atau duduk disebelah guru,bukan itu..namun orang yang cinta dengan guru itu ialah orang yang mendengar kalam gurunya, lalu ia patuhi, dan ia senantiasa menghubungkan rohaninya dengan gurunya tersebut, ia iktikadkan ia tiada berpisah dengan gurunya.

Ada beberapa prinsip yang musti dipegang teguh,karna kita tak sama dengan kebanyakan.
Sesiapa yang duduk bersama dengan orang-orang yang berdzikir akan terjaga daripada kelalaiannya. Sesiapa yang berkhidmat kepada orang-orang yang sholeh akan terangkat darajatnya lantaran khidmatnya.